DPRD dan Warga Desak Optimasi ‘Lahan Tidur’ Seberang Bandara Syamsudin Noor

  • Jun 15, 2026
  • Muhammad Maiji ☑️
  • PEMERINTAHAN, LANDASAN ULIN

BANJARBARU – Keberadaan aset lahan tidur yang cukup luas di seberang Bandara Internasional Syamsudin Noor memantik perhatian serius dari kalangan legislatif dan masyarakat. Komisi II DPRD Kota Banjarbaru menilai aset milik PT Angkasa Pura Indonesia tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal memiliki nilai strategis yang sangat tinggi untuk mendongkrak ekonomi daerah.

Sinyal desakan ini disampaikan langsung oleh Ketua Komisi II DPRD Banjarbaru, Ir. Syamsuri, di sela kunjungan kerja (kunker) ke manajemen Bandara Internasional Syamsudin Noor pada Selasa (2/6/2026).

Dukung UMKM dan Percepat Konsep Aerocity

Politikus Partai Gerindra tersebut membidik sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai motor penggerak utama yang bisa diwadahi di lahan kosong tersebut. Menurutnya, alih-alih dibiarkan menganggur menjadi lahan tidur, kawasan itu sangat potensial disulap menjadi pusat kuliner atau pujasera tertata.

“Mudah-mudahan bandara bisa punya planning ke depan, bisa membuka ruang untuk orang buka warung atau buka usaha kuliner di sana. Harapan kita bisa bekerja sama dengan UMKM atau stakeholder lain. Kita juga bisa dapat PAD (Pendapatan Asli Daerah) dari sektor itu,” ujar Syamsuri.

Langkah produktif ini diyakini tidak hanya menyerap tenaga kerja lokal dan menambah PAD Banjarbaru, melainkan juga mempercepat realisasi konsep Aerocity (kota bandara) yang kini gencar diusung oleh Pemerintah Kota Banjarbaru.

Suara Akar Rumput: Berharap Ruang Legal untuk Cari Makan

#Sejumlah warga yang berjualan di pinggir Jalan A Yani depan lahan milik Angkasa Pura Indonesia.

Harapan senada juga mengalir deras dari para pedagang kecil yang sehari-hari menggantungkan hidup di sekitar bandara. Kasiati, salah seorang warga yang berjualan menggunakan rombong/gerobak di pinggiran Jalan A. Yani, mengaku kawasan seberang bandara sangat diminati pengendara yang ingin singgah sejenak sembari melihat pesawat lepas landas atau mendarat.

“Mudah-mudahan lahan ini bisa dibikin ibaratnya warung kecil-kecilan, disewakan saja enggak apa-apa. Teman-teman sesama pedagang berharap bisa difasilitasi tempat yang resmi,” ungkap Kasiati.

Pedagang lain, Warsito, menambahkan bahwa berjualan di bahu jalan sebenarnya dilarang. Namun, karena desakan kebutuhan ekonomi untuk membiayai anak, mereka terpaksa bertahan. Warsito mengingat, di era mendiang Wali Kota Nadjmi Adhani, para pedagang sempat dijanjikan akan difasilitasi untuk bisa berdagang secara legal di lahan milik pihak bandara tersebut.

Respons Bandara: Optimis dan Mulai Jajaki Investor

Merespons sorotan tersebut, General Manager Bandara Internasional Syamsudin Noor, Stephanus Millyas Wardana, mengakui bahwa situasi ekonomi saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi para investor untuk bergerak cepat.

Meski demikian, manajemen bandara menegaskan tidak tinggal diam dan tetap optimis. Pihaknya mengaku sudah menyusun perencanaan (planning) matang terkait optimasi lahan di seberang bandara tersebut.

“Ada beberapa (calon investor) yang sudah bergerak maju sampai ke tahap yang lebih maju daripada sekadar persiapan. Tapi pada prinsipnya sudah ada planning untuk pemanfaatan lahan tersebut,” pungkas Millyas.

 

 

Foto : Istemewa
Sumber: Istemewa
(Editor/Alf/KimLutengBungas)

 

 

Kunjungi Juga :

Instagram: (@kel_landasanulintengah, @luteng_bungas, @infokim.id )