Momen Haru di Banjarbaru: Presiden Prabowo dan Mensos Resmikan Sekolah Rakyat, Tanpa Pendaftaran, Tanpa Suap
- Jan 14, 2026
- Muhammad Maiji ☑️
- SOSIAL, PEMERINTAHAN
BANJARBARU – Suasana haru menyelimuti peresmian 166 Sekolah Rakyat tingkat nasional yang dipusatkan di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1/2026). Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dan Menteri Sosial, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), tak kuasa menahan emosi saat menyaksikan langsung dampak nyata dari program strategis pengentasan kemiskinan tersebut.
Presiden Prabowo mengaku "terharu dan bahagia" melihat anak-anak dari keluarga kurang mampu kini memiliki harapan baru.
“Terus terang saya cukup bahagia, terharu sebetulnya. Kita memperbaiki kehidupan seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya segelintir. Mungkin yang dulu anak kita sulit sekolah, sekarang mereka punya harapan,” ujar Presiden Prabowo.
Ia menegaskan bahwa tugas pemimpin bukan hanya mengejar pertumbuhan ekonomi konvensional, tetapi harus berani merasakan apa yang dialami rakyat paling bawah. Targetnya, pada tahun 2029 nanti akan terbangun 500 Sekolah Rakyat dengan 500.000 murid untuk melindungi rakyat dari kemiskinan ekstrem.
Tangis Mensos Pecah: "Ini Sejarah"

Momen emosional juga terlihat saat Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, memberikan laporan. Suaranya bergetar dan matanya berkaca-kaca saat menyebut program ini sebagai "gagasan bersejarah".
“Kelak, ketika anak-anak dari tepian sungai, lereng bukit, dan sudut-sudut negeri berdiri sejajar di tengah bangsa ini... orang akan berkata pelan: Di masa itu, pernah ada seorang presiden yang menanam harapan dan menamainya Sekolah Rakyat,” ucap Gus Ipul menahan tangis.
Turun dari panggung, tangis Gus Ipul pecah. Presiden Prabowo pun menyambutnya dengan pelukan hangat sebagai bentuk dukungan atas kerja keras tim Kementerian Sosial.
Tanpa Pendaftaran, Tanpa Suap
Dalam kesempatan terpisah, Mensos menegaskan bahwa Sekolah Rakyat tidak membuka pendaftaran. Siswa dipilih melalui proses seleksi ketat dengan mendatangi langsung rumah keluarga sasaran (jemput bola).
"Tidak boleh ada suap menyuap atau titipan. Yang masuk adalah anak dari keluarga sangat rentan seperti buruh harian, pemulung, dan petani dengan penghasilan di bawah Rp1 juta per bulan," tegas Gus Ipul.
Dengan anggaran APBN sebesar Rp6,6 triliun, Sekolah Rakyat tidak hanya memberikan pendidikan akademik, tetapi juga perbaikan gizi, kesehatan, dan tes bakat (DNA talent) untuk mencetak agen perubahan yang mampu memutus mata rantai kemiskinan keluarganya.
Kunjungi Juga :
Instagram: (@kel_landasanulintengah, @luteng_bungas, @infokim.id )