29 Tahun Tragedi Jumat Kelabu Banjarmasin: Pelajaran Berharga tentang Mahalnya Kedamaian
- May 23, 2026
- Muhammad Maiji ☑️
- SOSIAL, LANDASAN ULIN TENGAH
BANJARMASIN – Tanggal 23 Mei selalu menjadi hari yang penuh dengan keheningan mendalam bagi warga Kalimantan Selatan. Tepat hari ini, 23 Mei 2026, genap 29 tahun sudah tragedi Jumat Kelabu 1997 berlalu. Sebuah peristiwa kelam pra-Reformasi yang berawal dari gesekan politik masa kampanye Pemilu, namun berujung pada kerusuhan massal, pembakaran kota, dan merenggut ratusan nyawa yang terjebak di Mitra Plaza Banjarmasin.
Tragedi ini meninggalkan luka kolektif yang tak terlihat, namun denyutnya masih terasa di dada urang Banjar. Guna menolak lupa dan menjaga perdamaian, berbagai elemen masyarakat, termasuk generasi muda dan seniman lokal seperti akun @_Yesheka, terus berupaya merawat ingatan tersebut melalui karya visual dan rasa.

"Bukan untuk membuka luka lawas, tapi supaya generasi wayahini (sekarang) ingat bahwa damai itu mahal harganya, dan sejarah jangan sampai hilang ditelan waktu," tulisnya dalam sebuah refleksi emosional.
Kesimpulan & Pelajaran
Berdasarkan catatan sejarah dan analisis sosiologis dari berbagai lembaga riset serta kesaksian tokoh Banua, berikut adalah beberapa poin krusial yang bisa dipetik dari Tragedi 23 Mei 1997:
-
Bahaya Polarisasi dan Manipulasi Politik: Tragedi ini membuktikan betapa berbahayanya ketika sentimen massa dipicu oleh fanatisme politik yang tidak sehat. Ketegangan antar-simpatisan partai saat itu mudah tersulut karena minimnya ruang dialog yang sehat.
-
Efek Domino Histeria Massa (Mass Hysteria): Amarah kolektif di jalanan sering kali menghilangkan akal sehat. Kerusuhan tidak hanya merugikan infrastruktur kota seperti Mitra Plaza, tetapi juga mengorbankan warga sipil tak bersalah yang terjebak di tengah pusaran konflik.
-
Ekonomi dan Sosial yang Lumpuh: Butuh waktu bertahun-tahun bagi Banjarmasin dan sekitarnya untuk memulihkan roda ekonomi dan trauma psikologis masyarakat pasca-kejadian.
Apa yang Harus Dilakukan Generasi Penerus?
Sebagai pemegang estafet masa depan Banua, generasi muda memiliki tanggung jawab besar agar sejarah kelam ini tidak pernah terulang kembali:
-
Menjadi Filter Informasi (Anti-Provokasi): Di era digital saat ini, konflik sering kali dimulai dari hoaks dan ujaran kebencian di media sosial. Pemuda harus cerdas, kritis, dan tidak mudah terprovokasi oleh isu SARA atau politik praktis.
-
Merawat Toleransi dan Ruang Dialog: Perbedaan pilihan politik atau pandangan hidup adalah hal wajar. Generasi penerus wajib mengedepankan musyawarah dan kepala dingin dalam menyelesaikan setiap gesekan sosial.
-
Menyalurkan Energi Lewat Karya Kreatif: Seperti yang dicontohkan melalui sapuan kuas di atas kanvas, energi dan ekspresi kritis pemuda sebaiknya disalurkan ke hal-hal positif seperti seni, literasi, teknologi, dan ekonomi kreatif yang membangun daerah.
Biar cat di kanvas kawa (bisa) pudar, namun ingatan tentang Jumat Kelabu harus tetap hidup sebagai kompas moral bagi anak cucu kita untuk selalu menjaga keharmonisan di Bumi Lambung Mangkurat.
Kunjungi Juga :
Instagram: (@kel_landasanulintengah, @luteng_bungas, @infokim.id )